Indo_Artikel

Just another WordPress.com weblog

Penguin Purba tak Selalu Suka Es

Posted by sariwibowoaang pada Juli 31, 2009


imagesPenguin identik dengan daerah dingin. Itu jika kita melihat kondisi saat ini. Padahal di masa lampau, burung yang tak bisa terbang itu lebih suka menetap di daerah yang hangat. Setidaknya itulah yang terbukti dari temuan sejumlah fosil penguin di Peru belum lama ini.

Fosil tersebut dinamai sebagai spesies Icadyptes salasi, hidup kurang lebih 36 juta tahun silam. Hewan ini memiliki moncong panjang mirip paruh dengan tinggi tubuh lima kaki. “Jenis ini bisa langsung dikenali dengan paruhnya,” jelas Julia Clarkem palaentologis dari North Carolina State University seperti yang dikutip Reuters.

Spesies ini berukuran lebih besar dibanding dengan penguin yang ada saat ini. Dari sejarah penemuan fosil, jenis ini adalah nomor tiga terbesar dari penguin yang pernah hidup di muka bumi. Sebelumnya sempat dijumpai fosil burung akuatik tersebut di Selandia Baru yang berusia 61 juta tahun atau tak lama setelah kepunahan dinosaurus.

Tak Selalu Dingin

Jenis pengiun terbesar yang masih hidup sekarang adalah pengiun Emperor dengan tinggi empat kaki. Fosil lain yang juga dijumpa di Peru adalah jenis yang lebih kecil tapi lebih tua dari Icapdyptes, yakni Perudyptes devriesi yang hidup 42 juta tahun silam. Ukurannya sekitar 2,5-3 kaki saja, sama dengan penguin Raja yang masih hidup saat ini.

Asal tahu saja, wilayah pantai selatan Peru tempat fosil-fosil mascot Linux itu ditemukan adalah wilayah panas. Jadi ilmuwan menyimpulkan bahwa di masa lampau, penguin lebih suka menetap di wilayah panas ketimbang dingin seperti yang kita tahu saat ini.

Banyak ilmuwan meyakini bahwa pinguin meninggalkan wilayah dingin seperti Antartika atau Selandia Baru untuk mencari kehangatan, namun memang ada spesies penguin yang menghuni daerah hangat seperti Peru atau daerah katulistiwa seperti Kepulauan Galapagos. Riset yang melibatkan ilmuwan Peru dan Argentina ini dipublikasikan di jurnal teranyar Proceedings of the National Academy of Sciences.

sumber : netsains.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: