Indo_Artikel

Just another WordPress.com weblog

Nenek Moyang Kita Berasal Dari Jagad Raya

Posted by sariwibowoaang pada Juli 10, 2009


Mula pertama, yang ada hanyalah ruangan kosong; tidak ada malam dan tidak ada siang, tidak ada daratan dan tidak ada lautan, tidak ada matahari dan tidak ada langit. Yang ada hanyalah suatu kehampaan besar, yang sunyi senyap. Waktu berlalu tersu tanpa terukur…..Kemudian kehampaan itu mulai bergerak, dan merobah diri menjadi “Po”. Semuanya gelap, kegelapan yang pekat. Kemudian lagi “Po” itu sendiri mulai berputar.Berubah. Sesuatu, yang baru itu, seperti pasir, dan pasir itu berobah menjadi bumi yang keras, dan bumi itu membesar. Akhirnya terwujudlah “Papa”, ibu dari bumi; dia meluas dan menjadi daratan besar….Di dalam airnya terdapat tumbuh-tumbuhan, binatang dan ikan, dan mereka semua mengembang-biak. Hanya manusialah, yang tidak ada. Selanjutnya “Tangaloa” menciptakan “Tiki”, yang merupakan nenek moyang kita…..’

Demikianlah ceritera mengenai terciptanya dunia, yang diuraikan oleh seorang laki-laki tua, Te-Jha-A-Te-Pange, yang menjadi penghuni pulau Raroia, dalam kelompok kepulauan Tuamotu, kira-kira sejauh 450 mil di sebelah Timur-Laut pulau Tahiti.

Lima Daya Kemanusiaan

Munculnya seorang manusia di dunia selalu menimbulkan sejumlah pertanyaan tertentu, misalnya: Kapankah dia datang, dan bagaimanakah rupanya?” Menentukan tanggal kedatangannya adalah sulit, akan tetapi ada sangat banyak teori mengenai bentuk-rupa nenek moyang kita.

Seorang pengkhayal Amerika, Edgar Cayce, mengatakan bahwa manusia mewujudkan dirinya dalam “lima persyaratan”, yaitu: lima indera, lima akal, lima lingkungan, lima perkembangan, lima bangsa. Cayce tidak dapat memberi keterangan yang jelas mengenai gagasan dan makna, yang tersembunyi di belakang rumus yang tak jelas itu. Akan tetapi ketika ditanyakan kepadanya, bagaimana lima bangsa itu muncul, dia menjawab: “Mereka semua muncul pada waktu yang bersamaan.”

Tigapuluh tahun kemudian pendapat Cayce dibenarkan oleh Carleton S. Coon, seorang Profesor di bidang Antropologi di Museum Universitas Pennyslvania. Carleton menyatakan sbb: “Kira-kira 500.000 tahun yang lalu, umat manusia dibagi dalam lima bangsa atau lima jenis; dan lima bangsa itu masing-masing brkembang terlepas satu sama lain. ‘Homo erectus’ menjadi ‘homo sapiens’ bukan hanya satu kali, melainkan lima kali, pada tingkatan, ketika masing-masing bangsa menyeberangi ambang-pintu kecerdasan. Mungkin ada jarak-waktu 200.000 tahun antara waktu menjadi cerdasnya bangsa yang pertama dan saat bangsa yang ke lima dapat mencapai tingkat-kecerdasan itu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: