Indo_Artikel

Just another WordPress.com weblog

TIAHUANACO, NASCA, PISCO, BAALBEK WARISAN DARI SEBERANG ?

Posted by sariwibowoaang pada Juli 2, 2009


Pada tanggal 7 Maret 1960, Kapten Peri terbang dengan helikopternya pada ketinggian 4.000 meter di atas pegunungan Cordilleras De Los Andes. Penerbangan itu merupakan penerbangan rutine, tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh gambar-gambar geometris, yang aneh, di darat. Bentuk-bentuk gambar itu belum pernah terlihat sebelumnya.

Kalender Berdasarkan Ilmu-perbintangan,

Yang Terbesar Di Dunia.

Kembali di Lima, Kapten Peri memberitahukan pengalamannya kepada seorang Jerman akhli purbakala, Maria Reiche. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Peri, Reiche segera berangkat ke dataran tinggi Nasca. Akan tetapi, setelah sampai di sana, dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.

Heran karenanya, si akhli-purbakala melanjutkan penyelidikannya dengan naik pesawat terbang. Baru kemudianlah dia dapat menemukan apa yang dia sebut sebagai “kalender astronomis, yang terbesar di dunia dan di segala jaman”.

Akan tetapi, apakah sebenarnya bekas-bekas bentuk gambaran itu, yang sampai hari ini-pun masih merupakan bahan polemik? Sama dengan persoalan-persoalan di lain daerah – Baalbek, Tiahuanaco, Pisco – pendapat-pendapat bermunculan saling menyusul dan saling bertentangan; pendapat-pendapat, yang saling mengisi dan saling menyerang; semuanya itu sesuai dengan keyakinan masing-masing orang penulisnya.

Apakah daerah-daerah itu mengandung arti bukti tentang pernah adanya peradaban manusia, yang kemudian telah menghilang? Apakah daerah-daerah itu merupakan peninggalan atau warisan terakhir dari peradaban, yang datang dari suatu tempat misterius, sebagaimana dikemukakan oleh penyelidik-penyelidik tertentu?

“Grabados” (= Ukir-ukiran) Raksasa Dari Nasca.

Bentuk-bentuk di Nasca, yang hanya dapat dilihat dari udara, mempunyai corak “pistas”, artinya, menjulur seperti landasan-terbang, “lineas”, atau kerutan-kerutan panjang, dan corak “grabados” (= ukir-ukiran) yang merupakan disain raksasa.

“Grabados”nya menggambarkan seekor monyet setinggi 100 meter, tergambar penuh, dengan ekornya tergulung ke atas; selanjutnya, seekor burung nasar berparuh panjang, yang menurut keyakinan orang-orang pra-sejarah, merupakan “utusan para Dewa”, dan akhirnya seekor laba-laba raksasa setinggi 46 meter, dengan 8 buah kakinya yang sangat besar dan badan yang tidak seimbang ukurannya (perutnya lebih kecil dari pada rongga dadanya).

Tiga buah bentuk, yang sangat jelas itu, disertai bentuk-bentuk lain binatang, seperti seekor kucing, seekor burung kakatua, beberapa ekor ikan, ular-ular, dll, …….

Dua Buah Gambar Manusia Aneh

Terukir Dalam Batu.

Berasal dari manakah “pistas” dan “lineas” itu? Pengintaian dari pesawat udara menunjukkan, bahwa bentuk-bentuk garis itu dimulai dan diakhiri secara mendadak. Untuk apakah? Tidak ada yang mengetahuinya.

Garis-garis itu bercampuran dan saling potong tanpa diketahui arti maksudnya, akan tetapi hasil bentuknya adalah indah-mengagumkan; bentuk spiral yang sempurna, dan bentuk-bentuk gambar geometris.

Pada jarak, yang tidak begitu jauh dari situ, terdapat dua bentuk orang terukir dalam batu dengan kepala masing-masing dikelilingi oleh sinar cahaya, yang bagi para sarjana juga merupakan teka-teki. Pertama-tama, ukiran bentuk manusia itu tidak mewujudkan bentuk corak orang-orang dari suku bangsa di daerah itu. Selanjutnya, mengapakah bentuk gambar itu diberi pancaran cahaya? Para penyelidik hanya dapat sampai pada dugaan-dugaan saja: “Apakah dua bentuk gambar ukiran itu menggambarkan dua orang nenek-moyang para penghuni Cordelliras De Los Andes, ataukah menggambarkan orang-orang dari angkasa luar, yang hendak diabadikan oleh bangsa Inca?”

Apakah Tiahuanaco Diciptakan “Sebelum

Lahirnya Matahari Dan Bintang-Bintang”?

Kota Tiahuanaco, di Bolivia, merupakan peninggalan lain dari suatu jaman, yang telah sangat jauh berlalu. Seorang wartawan Perancis, Roger Delorme, mengetahui dengan baik sejarah bangsa Inca dan riwayat kuno para penghuni Cordelliras De Los Andes. Dia sangat mengagumi kota-kota kuno Cuzeo, Pachacamar dan OllantayTambo. Dia tertawan oleh pesona reruntuhan kota-kota itu.

Dalam tahun 1958 dia meninggalkan La Paz dan mengunjungi kota, yang dianggap tertua di dunia, Tiahuanaco, yang letaknya terpencil di suatu dataran tinggi pasir. Dengan perasaan yang sangat terpengaruh oleh keadaan, dia masuk lewat “Pintu gerbang Matahari” yang sangat besar, dan, ketika dia menebarkan pandangannya ke daerah yang agung itu, dia mendapat perasaan aneh, yang seakan-akan mengatakan, bahwa reruntuhan itu mungkin mengandung rahasia asal-usul dunia!

Selama berminggu-minggu berturut-turut, dia menyelidiki keadaan dataran tinggi itu tanpa merasa lelah, mencari jawabannya dalam batu-batu kuno, dan juga dengan cara mewawancarai para penduduk aseli. Hasil penyelidikannya adalah sangat sedikit; menurut penduduk Bolivia, maka kota Tiahuanaco sejak dahulu-kala hanya dikenal sebagai suatu reruntuhan, dan menurut mereka malahan sudah diciptakan ‘sebelum lahirnya matahari dan bintang-bintang di langit’.

Kini, para akhli terbesar mengenai Andes menyatakan, bahwa Tiahuanaco berasal dari jaman beberapa puluh ribu tahun sebelum Masehi.

Siapakah Yang Menghuni Kota Kuno Itu?

Bangunan, yang paling megah dan mengesankan dari keseluruhan kota kuno itu, adalah “Pintu-gerbang Matahari”. Tinggi tiga meter dan lebar enam meter, di pahat dari sebuah balok batu utuh yang beratnya lebih dari 100 ton, bangunan itu dihiasi dengan 48 buah bentuk gambar, yang disusun dalam tiga baris dan mengelilingi suatu makhluk aneh, yang disebut oleh orang-orang Andes sebagai “Dewa”.

Semua bangunan sisa dari Tiahuanaco berbentuk seimbang dengan bentuk “Pintu-gerbang Matahari”. Balok-balok batu, yang masing-masing beratnya 100 ton dan 60 ton, di satukan atau di gandengkan dengan jepitan-jepitan tembaga. Batu-batu ubin yang berukuran 5 meter, dan dipotong-potong dari batu-batu balok utuh, pipa-pipa dari batu yang sudah putus-putus di beberapa tempat, dan tersebar di dataran tinggi itu; kesemuanya itu membingungkan para akhli purbakala. Siapakah kiranya yang telah mendirikan bangunan-bangunan itu?

Patung-patung yang luar biasa besarnya, yang diketemukan di tempat itu, menambah lagi keanehan pada kota, yang berumur ribuan tahun itu. Sebab, terlepas dari besarnya yang luar biasa, patung-patung itu sama sekali tidak mempunyai persamaan satu sama lain, dan menggambarkan suatu perbedaan rupa bangsa, yang mengagumkan; yang sebuah menunjukkan bentuk seorang Negro dengan bibirnya yang tebal dan hidungnya yang pesek, yang sebuah lainnya menunjukkan bentuk orang Eropa dengan bibirnya yang tipis dan hidungnya yang mancung. Karenanya, terpaksalah kita bertanya: “Termasuk bangsa apakah penduduk kota Tiahuanaco pada jaman pra-sejarah itu? “.

Benar-benar Suatu Pompeii Di Amerika:

Beberapa ratus kilometer dari Tiahuanaco diketemukan “Candelabro” (= trisula) dari Pisco, yang panjangnya 183 meter dan terbuat dari balok-balok batu yang mengandung fosfor serta berwarna putih mengagumkan.

Tiap-tiap cabang trisula itu lebarnya 3,85 meter. Benda itu dapat dilihat dari darat, udara maupun laut. Terletak di bukit pasir, trisula itu mirip dengan bekas-bekas yang ada di Nasca, dan menunjukkan adanya persamaan bentuk-bentuk tekniknya.

Reruntuhan Baalbek dapat disamakan dengan tiga macam keanehan dari jaman pra-sejarah, yang baru saja dipersoalkan. Baalbek merupakan sebuah kota dengan bangunan-bangunan keagamaan yang sangat besar, yang dibuat dari balok-balok batu utuh. Di kota itulah, di antara benda-benda aneh lainnya telah diketemukan sebuah batu yang terberat di dunia, yang disebut “Hadjar El-Goubla” (= Batu dari Selatan) dan mempunyai berat dua juta kilogram!

Apakah tempat-tempat keagamaan itu ada hubungannya dengan peradaban kota Tiahuanaco, yang telah meninggalkan bekas-bekas lain di seluruh Amerika?

Kolonel Walker, yang dalam tahun 1850 mengadakan penyelidikan di seluruh Nicaragua, dan menemukan tempat-tempat bekas kota-kota yang telah hancur, telah meninggalkan tulisan mengenai salah sebuah kota, yang telah hancur itu, sebagai berikut: “Di tempat ini kami melihat sebuah bangunan pusat yang mengagumkan, yang di sekelilingnya, sampai kira-kira sejauh satu mil, terdapat berserakan sisa-sisa sebuah kota. Di sana terdapat bukti-bukti tentang bekas adanya gunung meletus, dengan balok-balok batu yang terbakar menjadi arang, yang membuktikan pernah terjadinya suatu bencana yang mengerikan. Di tengah-tengah kota itu, benar-benar suatu Pompeii di Amerika, berdirilah sebuah batu cadas yang tingginya kira-kira 20 sampai 30 kaki, yang masih kelihatan sebagai sisa sebuah bangunan raksasa. Ujung bangunan itu kelihatan seperti muncul dari sebuah tungku. Sangat anehlah, bahwa orang-orang Indian tidak mempunyai ceritera-ceritera kuno mengenai masyarakat jaman prasejarah, yang dahulunya tumbuh dan berkembang di daerah itu. Kalau mereka mengawasi reruntuhan yang menyedihkan itu, maka mereka menunjukkan penuh rasa hormat dan enggan, seperti menghadapi suatu tempat suci, akan tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui sejarah reruntuhan itu”.

Dan siapakah yang memberikan pengetahuan kepada orang2 jaman dahulu? Apakah orang 2 dari seberang ( other planet)? Allohualam bin sawab……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: